Filled Under:

Kusen Non-Kayu Hemat Energi, Ekonomis, dan Ramah Lingkungan

Share


"Zaman telah berubah, sejalan dengan itu kebiasaan masyarakat pun ikut berubah. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan menjadi tren sekaligus gaya hidup. Sikap hidup yang pro lingkungan itu ditunjukkan dengan kebiasaan menggunakan bahan material non kayu dalam mendirikan atau membangun rumah atau hunian."
_________________________________________________________

Kebetulan untuk saat ini sangat sulit menemukan kayu yang berkualitas. Jika pun ada harganya akan sangat mahal dan langka. Sebab itu, penggunaan kayu sebagai material penyusun bangunan, mulai banyak ditinggalkan. Bila sebelumnya  masyarakat sudah akrab dengan konstruksi atap berbahan non kayu, maka kini kusen pun juga menggunakan material non kayu.

Ditilik dari segi estetika, kayu memang tiada duanya. Namun, seiring dengan semakin langkanya kayu di pasaran maka material non kayu pun menjadi pilihan dengan berbagai konsep dan design yang dibuat sedemikian rupa agar nilai estetika tetap tampak. 

Sekarang ini pun masyarakat tak perlu khawatir dengan pilihan non kayu karena di pasaran sangat banyak tersedia dan beragam jenisnya. Sebut saja unplasticised poly vinyl chlorida (upvc).

Kusen dan pintu pvc maupun upvc lebih banyak dipergunakan sebagai pintu kamar mandi, karena sifat utamanya yang tahan air. Sebagai informasi upvc punya keunggulan tahan terhadap suhu, cuaca dan unsur asam.

Kendati nyaris sama, pvc dan upvc juga memiliki keandalan yang berbeda. Upvc merupakan pengembangan dari kusen pvc atau turunan dari plastik dan kurang lentur. Bagian dalam kusen upvc diberi rangka sehingga kusen ini lebih kokoh dan berat terbuat dari baja. 

Meski di awal tulisan disebut pilihan menggunakan kusen non kayu karena langkanya kayu dan keadaran terhadap kelestarian lingkungan hidup, namun menurut Ivone (42) ibu rumah tangga yang tinggal di perumahan sekitaran Jatiasih, Bekasi, , seperti dilansir dari rei.or.id, pilihannya beralih ke kusen non kayu karena bebas rayap dan tersedia beragam warna. 

“Memanfaatkan kusen non kayu merupakan cara untuk mengatasi rayap. Pilihan warnanya juga bervariasi sehingga memudahkan saya untuk memilih,” ujarnya.

Mengacu pada harga, kusen non kayu lebih ekonomis dan terjangkau. Pun demikian pemasangannya juga lebih cepat dan efisien. Berbeda dengan kusen kayu yang memakan waktu lebih lama dan proses pemasangan yang lebih rumit. 

Sebagai gambaran, kusen kayu dipasang sebelum konstruksi dinding dilakukan. Kusen kayu harus disetel dengan tepat pada arah horizontal menggunakan waterpas dan arah vertikal menggunakan bandul atau pemberat. Setelah kusen kayu terletak pada tempatnya, barulah material penyusun dinding seperti batu bata dipasang di kiri dan kanan kusen. 

Sedangkan kusen non kayu memiliki cara pemasangan yang sama sekali berbeda. Kusen akan dipasang setelah pengerjaan dinding selesai, tinggal menyisakan pekerjaan pengecatan. Pada dinding bata yang sudah diplester dan diaci, dipersiapkan lubang yang ukurannya sudah sesuai dengan besarnya pintu atau jendela. 

Terkait harga, kusen jati kelas bawah bisa diperoleh dengan harga di bawah Rp 100 ribu per meter. Tetapi jati kelas satu dengan motif yang bagus dan bebas dari mata kayu bisa berharga sepuluh kali lipatnya. 

Harga kusen aluminium jauh lebih murah dibanding kayu yakni sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu per meter panjang kusen. Tetapi kusen aluminium juga memiliki kelemahan, yaitu sangat tergantung pada kekuatan sambungan dan kerapihan pekerjaan. Maka, salah satu pilihan tepat adalah menggunakan material UPVC, selain harganya murah juga memiliki ketahanan yang lebih baik dari kayu dan alumunium.